Wah,,,,,Nih m@sala@h buat kita_kite yang masih remaja lho
Ditulis oleh ceweksastra di/pada Maret 30, 2008
Remaja, Sasaran Empuk Bandar
REMAJA paling rentan narkoba. Ini buktinya:
- Pengguna narkoba terbesar ada di kelompok usia 15-24 tahun (BNN, 2004). Menurut penelitian Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB, 2002), kelompok usia terbesar anak bereksperimen narkoba pertama kalinya adalah 12-17 tahun.
- Dari wawancara kualitatif yang dilakukan terhadap 672 pecandu yang dirawat di panti rehabilitasi di Jawa menyatakan bahwa usia 13-15 tahun adalah masa yang paling kritis bagi mereka untuk memulai memakai narkoba (YCAB, 2001).
- Dari 3,6 juta pecandu di Indonesia (hampir sekitar 1-1,5% penduduk), ada rata-rata 15 ribu orang meninggal akibat narkoba setiap tahunnya (BNN, 2005). Sebagian besar yang meninggal adalah kaum muda di bawah 30 tahun.
Padahal, masa remaja, kata orang, adalah masa terindah. Seharusnya demikian bagi remaja dari golongan mampu karena tidak perlu stres memikirkan pekerjaan lain selain belajar dan pertemanan. Tapi kenyataannya, bagi remaja itu sendiri, sekolah pun terkadang menjadi hal yang tidak menyenangkan, malah sering kali terpaksa dilakukan.
Ketidakstabilan emosi membawa depresi tersendiri bagi remaja. Apalagi, ketidaksinkronan persepsi dan harapan antara remaja dan orang tua yang mulai memuncak di masa ini sering mendatangkan sejumlah masalah dan ketegangan dalam keluarga. Siapa memetik keuntungan dari itu semua? Bandar. Masa transisi berisiko tinggiDari tahun ke tahun, data cukup konsisten menunjukkan bahwa kaum remaja adalah kelompok pangsa pasar terbesar bandar narkoba. Dominasi pelanggan remaja menjanjikan bandar pasar yang cukup atraktif; menjanjikan pasar baru setiap hari karena proses pemasaran ala member-get-member di kalangan teman sebaya. Bagi pelanggan yang sudah kecanduan, menjanjikan ‘kesetiaan’ membeli. Bagi yang baru coba-coba, mereka setidaknya berharap diberikan sampel gratis. Semua itu dimungkinkan berbagai faktor; mulai dari karakteristik biologis, psikologis, lingkungan sosial, dan budaya yang terjadi di masa remaja. Dari sisi biologis, masa pubertas yang dialami remaja cenderung membawa dampak psikologis (mood, pencarian jati diri, dan lainlain), di samping dampak fisiologis (perubahan dalam tubuh dan pertumbuhan organ seksual). Masa transisi yang terjadi di kala anak masuk ke jenjang SMP juga dipercayai banyak ahli sebagai masa paling kritis dalam hidup anak. Di jenjang itulah, anak mendapatkan banyak tantangan baru dalam hidupnya, tuntutan akademik, teman baru dan mungkin lingkungan sekolah baru. Kedua hal itu dapat menyebabkan berubahnya karakter dasar dan sikap remaja, dari yang tadinya ‘anak manis’ menjadi individu yang berbeda dan tidak dapat diprediksi. Ada yang menjadi supermandiri seakan tidak perlu pendapat orang lain. Ada yang menjadi sangat tergantung pada teman. Tentu ada pula yang tumbuh menjadi individu yang mantap dan dewasa. Dalam perjalanan hidup anak, di masa remaja inilah mereka mulai dihadapkan kepada kenyataan-kenyataan hidup yang dapat menimbulkan berbagai tekanan. Menurut data konseling nasional di Amerika Serikat, seperti yang tertulis dalam buklet Parents: The Anti Drug (2004), remaja mengakui tekanan terbesar yang mereka hadapi sehari-hari adalah tekanan sosial untuk mencoba rokok, alkohol atau narkoba. Tekanan sosial itu melebihi tekanan pergaulan atau kekerasan dalam keluarga yang mereka hadapi.
